Dentuman gemricik air di kamar mandi masih terdengar di telinganya walau berjarak sekian meter. Orang-orang masih saling berbincang leluasa menanti magrib tiba. Dan pikiran itu kembali masuk menjejak-jejak kepala. Bagaimana mungkin ia sampai remidi sosiologi 2 kali, padahal teman-temannya atau mungkin sahabatnya tidak mengulang sama sekali. Ia merasa seakan dirinya sangatlah tolol. Ia menggebrak mejanya, lalu berjalan menuju ke arah gemricik air, dan menutup pintu rapat-rapat.
Ia ambil air dengan kedua telapak tangannya yang halus. Lalu ia basuhkan ke muka. Air itu sangatlah segar untuk keadaan yang sepanas ini. Namun ia tak merasakan apapun akan itu. Justru kekosongan, kebencian, atau malah rasa dendam yang dalam. Ia pandangi wajahnya dalam-dalam di muka kaca. Memang benar semua kata orang, bahwa ia mirip kakaknya.
"Tapi aku bukan Titya itu!" bentaknya pada wajah yang nampak di cermin. Namun ia sendiri tak tahu apa perasaannya yang sebenarnya. terkadang ia senang akur dengan Titya, tetapi kadang kala ia juga tak suka disamakan dengannya.
Ia berpaling, keluar dari kamar mandi dengan perasaan tak tentu. Mungkin perasaan marah atau benci. Atau mungkin kebingungan akan semua hal di dunia ini, khususnya dalam hidupnya tang tega membebani tubuhnya. Ia kembali masuk ke kamar bersamaan dengan gemuruh suara pesawat terbang yang lewat di atas rumahnya. semua orang keluar karena pesawat itu terbang sangat rendah yang jarang sekali terjadi di kampungnya. Namun tidak untuknya, sama sekali tidak. Ia tetap melanjutkan rencananya, naik ke kasur dan merebahkan diri senyaman mungkin, kemudian tidur. Itulah kesehariannya di waktu senja. Sulit untuk menerangkannya.
Pagi ini semua berjalan seperti biasa. Sang surya telah mendongak setinggi tiang. burung-burung berkicau terang menyanyikan lagu suka atau malah kepedihan, entah dengan rela atau paksaan. Jam di meja masih terus melaju, tapi untuk saat ini menunjukkan pukul 06.30. Ia akan terus menunggu hingga 06.45. Ia merasa bosan hidup biasa-biasa saja. Ia memikirkan apa yang akan dilakukan di sekolah nanti. Melakukan kemunafikan seperti basanya? Ya, tentu. Kenapa tidak? Toh, teman-temannya juga mau dimunafiki. Dengan kedok senyuman, keramahan, dan sok bahagia, meski hatinya kosong. Walau ia tahu perjalanan masih jauh.
Orang-orang sudah mulai mondar-mandir ke sana sini membuka tutup gerbang. Suaranya berderit keras menyakitkan menambah pilu hatinya. Namun ia tetap saja masih diam. Masih menunggu. Dan ternyata -seperti kata orang- menunggu memang menyakitkan.
Terdengar jelas seorang perempuan sedang menghafal teks bahasa Inggris. Begitu banyak yang ia pelajari. Mungkin ia yakin ilmu dapat membawa keberuntungan. Tapi tidak untuknya. Ia jalani hidup mengalir seperti cairan, cairan darah yang merah, yang pekat, yang tajam. Yang bisa menusuk-nusuk jantung, seperti yang ia inginkan. Kenapa? Entahlah. Ia telah dibutakan dengan kekosongan dalam kepedihan. Sengsara dalam kemunafikan yang tak kunjung hilang. Atau bahkan tak akan hilang, menetap selamanya, abadi. Dan ini bukan untuk siapapun, tapi untuk hasrat nafsunya.
Ia tidur walau tak tidur. Ia dengar seorang wanita dan seorang pria sedang berbicara keras. Di kamar itu juga ia dengar seorang anak kecil belum tidur.
"Pa, piye iki? Tetangga pada ngomongin Titya," kata ibu pada ayah. Nadanya terdengar sangat khawatir dan mencapai batas emosi. Mendengar itu, bapak merespon biasa saja, tak begitu memikirkannya. Mungkin belum.
"Opo tho? Ngomongin apa?"
"Iku lho, Bu Lestari katanya ngomong sama Mbak Sri kalau Titya boncengan sama Dar. Titya i piye tho, huh. Jadi pikiran."
"Opo Mbak Sri tau sendiri?"
"Dibilangin Bu Lastri. Ampek jadinya dadaku. Pusing aku!"
"Jangan percaya dulu. Sapa tahu cuma buat geger atau..."
"Lha tapi nama kita udah tercoreng. Titya itu mbok dibilangin! Dikandani ngono!"
"Yo, tapi po yo sekarang. Wong orange gak di sini."
"Ya ditelpun tho, Pak!"
Ia berbalik posisi tidur. Ia bisa sedikit mengintip dari celah-celah matanya. Ibunya begitu duram. Bapaknya berusaha berulang kali menelepon Titya. Dan juga berulang kali melepas telepon dari telinganya.
"Ora iso ditelpun," ayah berkata sambil terus berusaha menelpon Titya.
"Titya itu ngono kui! Sukannya minta pulsa, tapi kalau dibel angel banget! Huh!"
Ia mendengarkan dan sesekali mengintip ke sana kemari. Ia berkesimpulan sudah 10 menit bapak mencoba menelpon Titya, dan gagal.
Tiba-tiba ibu sudah ada di sampingnya. Ia langsung menutup mata, pura-pura tidur. Ibu membangunkannya. Ia beralih posisi agar nampak seperti orang tidur. Ternyata ibu ingin ia menelpon Titya.
Masih tidak bisa ditelepon. Mungkin sudah benar-benar tidur si Titya itu. Ia melirik jam dinding yang tergantung di atas cermin rias ibunya. Pantas saja tidak diangkat, sudah pukul 12. Alarm jam tangan berbunyi. Bising sekali teriakannya. Ia mencoba tidur, yang benar-benar tidur. Tapi ibunya malah menyemprotnya dengan kalimat-kalimat aneh. Tapi ia dapat menyimpulkan bahwa, 'Jangan telepon malam-malam, bisa membuat orang jatuh cinta seperti Titya.'

0 prakata:
Posting Komentar
monggo komen :)