Setiap hari terasa membosankan. Begitu juga hari ini. Aku pergi ke Mc. Donald untuk membeli sebuah burger tanpa membasuh badan terlebih dahulu. Penjaga toko terlihat rapi dan ramah. Mungkin termotivasi dari badut merah kuning yang terus tersenyum sambil duduk di bangku depan pintu masuk. Uang lima ribu ditukar dengan sebuah burger, cukup adil. Aku keluar sambil melakukan satu gigitan pertamaku pagi ini. Namun, langkahku terhenti saat tiba-tiba ada seorang gadis yang lari kesetanan melewatiku. Lalu disusul dengan cepat oleh seekor anjing. Awal yang konyol untuk waktu sepagi ini.
Seperti hari Minggu biasanya, aku berniat pergi ke taman. Kali ini aku membawa roti lapis isi daging. Pagi yang cerah, suasana yang ramah. Aku bersemangat menggigit lapisan daging yang masih hangat. Aromanya semerbak membuatku semakin bernafsu untuk melakukan gigitan selanjutnya. Tapi ternyata aroma ini tidak hanya tercium olehku. Aku baru sadar saat terdengar raungan di belakangku. Seekor anjing telah menanti santapan lezat yang kubawa. Sialnya, aku benci anjing. Jadi tidak mungkin aku mau mengikhlaskan roti lapis senikmat ini untuknya. Mungkin anjing itu tahu jalan pikiranku. Mungkin dia marah. Lalu aku lari secepat mungkin. Tapi sepertinya hari ini aku harus berolahraga. Anjing itu mengejarku tanpa ampun.
***
Pentas jalanan sudah dimulai malam ini. deSchoolish tampil. Ayu mencoba mendesak ke depan, berusaha melihat lebih dekat sang pangeran yang sering ditemuinya di GO. Dengan sigap ia mengeluarkan kamera dari tas punggungnya. Jepret sana, jepret sini, mencari posisi terbaik untuk sang idola.
Arya, sang pangeran, terlihat keren dengan kaos v-neck warna hitam yang dipadu celana jeans abu-abu. Sebagai vocalist, tidak salah bila ia diidolakan banyak cewek termasuk Ayu. Cewek manis ini, masih sibuk mengamati Rei, hingga tiba-tiba matanya beradu tatap dengannya. Hatinya terasa melambung tinggi, wajahnya memerah.
Ayu terpesona dengan tatapan cowok keren ini, hingga tanpa sadar seseorang merogoh tas punggungnya. Menyadari tasnya bergerak-gerak, Ayu menoleh ke belakang, lalu berteriak, “COPEEEEEEEEEEEEEEEEET!!!!!!!!!!!!!” Pencopet itu lari sambil membawa dompet hijau bergambar kodok, dompet Ayu.
“Tolong, toloooong!!!! Itu ada copet!!!!” teriak Ayu, sambil berlari menunjuk ke arah pencopet yang larinya semakin jauh. Tidak ada yang peduli. Bahkan sebagian orang hanya melihat Ayu yang langkahnya semakin pelan karena kelelahan. Pencopet itu menyeberang jalan dan berbelok di belakang gedung, sedangkan Ayu baru saja menyeberang jalan. Akhirnya ia berhenti, menunduk memegangi lutut sambil berusaha menghirup udara banyak-banyak.
“Sialan, jahat banget sih!! Gak ada yang nolongin!!!” umpat Ayu sambil berjalan pelan ke belakang gedung. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat pencopet itu terjatuh, babak belur. Di sisi lain ada seorang lelaki yang berjalan menghampiri pencopet yang wajahnya sudah berlumur darah itu. Lelaki itu mengambil dompet hijau, lalu berjalan ke arah Ayu. Pencopet itu dengan cepat berusaha lari. Ayu tertegun.
Lelaki itu memberikan dompet tanpa berkata apa-apa. Bahkan raut wajahnya tetap dingin. Ayu meringis, memperlihatkan gigi-giginya pada lelaki itu, berharap mendapat balasan senyum. Lelaki itu tetap dingin. Ayu mengambil dompetnya, dan lelaki itu berbalik pergi. Ayu mengamati punggung lelaki itu, yang semakin menghilang di kegelapan malam, ia merasa pernah melihatnya.
***
Aku melihatmu seperti seorang anak kecil yang belum memikul beban apapun. Seperti burung yang bebas terbang ke sana-sini tanpa peduli dengan keadaan yang terjadi di bawahnya. Kau selalu tersenyum dan tertawa lepas. Sedangkan aku, seperti tikus got yang untuk keluar saja butuh nyali yang besar. Terkadang keadaan yang kurang berpihak bisa membuatku menderita dengan tertangkap di jebakan tikus, atau mati tergencet mobil yang lewat.
Tapi, tidak ada salahnya kan, kalau seekor tikus yang kumuh mencoba mendekati burung yang menawan. Aku berjalan perlahan tanpa mengubah pandanganku padamu. Dan kau masih tetap duduk di bangku taman itu terpejam sambil mendengarkan musik yang aku tidak tahu apa judulnya.
Aku sampai di depanmu.
Hari ini cerah sekali, jadi tidak salah kalau aku bersemangat berjalan ke Dunkin Donnut sambil bernyanyi. C’n Blue – Love Girl, tema hari ini. Berbekal uang biru 50 ribu, aku berencana beli 2 macam donat dan sebotol Coca Cola. Pelayan kasirnya ganteng, tapi tidak lebih ganteng dari kamu, pangeranku. Aku beranjak pergi dari Dunkin Donnut ke arah taman. Seperti biasa, aku duduk di bawah pohon beringin, memejamkan mata sambil bernyanyi sesuka hati. Terserah apa kata orang yang lewat tentang suaraku. Aku membayangkan kamu.
Aku jadi ingat waktu kita bertatapan di tangga GO. Jambulmu sedikit rusak, tapi kau tetap terlihat tampan. Dengan mata yang tertutup, aku masih bisa melihat wajahmu saat bernyanyi di sana. Tapi sepertinya ada yang memperhatikanku saat ini.
Aku membuka mataku.
Namanya tikus tetap saja tikus, tidak mungkin menjadi harimau. Aku memilih pergi setelah menatap wajah manismu. Kau tidak melihatku, mungkin itu lebih baik. Langkah gontaiku membuat semua orang menatapku. Dengan penampilan buruk ini, mungkin orang-orang mengira aku mabuk. Ya, aku mabuk cintamu, tapi bodohnya, aku bukanlah pejantan tangguh yang bisa begitu saja bilang, ’Maukah kau jadi pacarku?’
Aku hanya orang yang tidak tahu apa-apa tentang kamu. Bahkan aku tidak tahu kau sudah punya pacar atau belum. Tapi sepertinya belum, semoga belum. Sekarang, aku hanya ingin kembali pulang, masuk ke kamar, dan bernyanyi lagu rindu.
Aku merasa seperti ada seseorang di depanku, tapi tidak ada siapa-siapa. Aku melihat ke sana-sini, tapi tidak ada yang melihatku. Yang ada hanya orang-orang yang melihat aneh pada seorang lelaki yang berjalan seperti pemabuk. Mungkin orang itu baru mengalami banyak masalah, atau hanya belum mandi. Apa urusanku? Aku membuka kardus dan mengambil satu donut, lalu kembali mendengarkan musik. Membayangkan kamu.
***
Kali ini perlombaan mural lebih membuatku bersemangat. Entahlah, mungkin karena aku sudah berniat untuk membuat cerita singkat di dinding ini. Agaknya tanganku yang sudah terbiasa dengan peralatan ini sejalan dengan pikiranku. Aku tersenyum. Seorang gadis yang terpejam di bawah pohon beringin telah tercipta di tembok ini. Aku membereskan peralatanku. Kulihat peserta yang lain juga telah selesai dan pergi. Sedangkan orang-orang yang lewat mulai berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan baru di tembok kota ini. Aku berjalan menjauh ke tempat yang teduh. Kukeluarkan kamera yang memang sudah kusiapkan saat berangkat tadi. Semua titik di sekitar sini adalah menarik bagiku untuk diabadikan. Hingga kulihat seorang gadis, hanya seorang diri, sedang meraba-raba hasil karyaku.
Aku berniat pergi ke taman seperti biasanya. Melewati toko Cahaya dan lapangan tenis, lalu menyeberang jalan. Ini hal yang paling kubenci, arus lalu lintas yang tidak bersahabat. Seharusnya pemerintah membenahi jembatan layang yang berlubang-lubang itu. Atau paling tidak ada polisi yang bertugas, sehingga aku tidak perlu maju mundur mencari-cari celah untuk menyeberang. Tiba-tiba pandanganku mengarah pada orang-orang yang berkumpul di dinding kota. Dinding itu nampak baru dengan lukisan-lukisan para seniman. Aku bertolak dari jalan raya ke jalan setapak untuk mengamati lukisan dinding itu. Aku berjalan menyusurinya melihat satu demi satu setiap titik dinding ini, hingga aku berhenti pada salah satu lukisan yang membuat jantungku berdegup cepat. Lukisan seorang gadis yang terpejam sambil mendengarkan musik di taman. Itu aku.
Fokus kuarahkan pada gadis manis itu. Kuambil gambarnya, waktu ia berjalan, menoleh, meraba, dan tersenyum. Kali ini kuberanikan untuk berbicara dengannya. Kali ini biarkan tikus berubah menjadi harimau.
Kuraba gambar ini. Bagaimana mungkin? Ini benar-benar aku. Tapi, siapa yang membuat? Siapa yang mengamatiku? Aku masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan itu, hingga suara datar seseorang menyadarkan aku.
”Hai.”
Dia menoleh padaku. Tatapan kami bertemu. Belum pernah jantungku berdetak secepat ini. Kulihat ada noktah coklat di bola matanya. Ia sangat manis.
”Ya?”
Ternyata seorang lelaki yang sepertinya aku pernah melihatnya, entah dimana. Sekejap aku terpesona oleh matanya yang dingin dan tajam. Tapi, ia berantakan.
Aku mengalihkan pandangan pada lukisanku. Aku takut tatapannya membuatku kacau untuk memulai kisah ini. ”Gadis ini cantik ya?” sekejap kulihat pipinya memerah, ia tersenyum.
”Kau tahu siapa yang membuatnya?”
”Memangnya kenapa?”
”Aku ingin bertemu.”
***
Sesuatu yang indah pasti akan tiba jika kita yakin, bukan? Hari ini sebenarnya aku hanya berniat memata-mataimu. Kau bersama teman-temanmu sedang berlatih untuk besok malam. Aku mengamatimu sejak awal hingga kini kau duduk untuk minum sebotol air mineral. Kau dongakkan kepalamu, lalu air itu sedikit demi sedikit mengalir ke mulutmu. Sedikit air bening itu keluar dari mulutmu dan menuruni leher kokohmu. Kau sungguh seksi, hihihi. Lalu kau melakukan hal yang paling membuatku membeku. Kau bernyanyi sambil membenahi jambul rambutmu. Tanpa sadar aku menendang kaleng di depanku. Kontan kau melihatku dan aku kaget setengah mati. Aku salah tingkah. Cepat-cepat aku berbalik dan berniat pergi dari sini, tapi ada yang menarik tanganku.
“Mau kemana?”
Aku berbalik dan terpaku. Kau ada di depanku. Mulutku terbuka tapi suaraku sama sekali tidak terdengar. Sial!
"Hmm, aku sering melihatmu mengamatiku."
Apa? Ketahuan ya? Kog bisa tau sih? Perasaan biasanya kau tidak pernah melihatku.
”Apa ada yang salah denganku?”
Oh, my God! You’re so perfect, Princess. Kesalahanmu cuma satu, kau membuatku terpesona, dan kini seharusnya kau bertanggung jawab, “Emm, anu, aku, eh maksudku tidak,” aku meringis.
“Kenapa wajahmu jadi merah? Kau sakit?”
“Ehh, enggak kok!” sial!
Kau mengerutkan alismu lalu tersenyum padaku. Senyuman yang tampan. Oh, Pangeranku, kau membuatku melayang-layang di awan.
“Hahaha, besok malam dating ya! Kayaknya kamu jadi tamu istimewa buatku.”
Eaaaaaaaaaa, sejurus kemudian aku melesat ke angkasa menuju bintang-bintang dan berdansa dengan bulan. Kai mengundangku sebagai tamu ISTIMEWA??? Beneran???
”Mau datang kan?”
Mau mau mauuuuuu, siapa sih yang bisa nolak ajakan cowok sekeren kamu. Ya ampun. ”Boleh,” aku tersenyum lalu pergi meninggalkanmu. Ini benar-benar hari yang indah.
***
Beberapa hari ini aku sering melihatmu mengendap-endap di ruang musik. Awalnya aku kira kau hanya ingin melihat latihan band karena kau suka musik. Tapi, ternyata aku salah. Sepertinya kau suka pada Rei.
Dugaanku semakin kuat setelah hari ini. Aku mengikutimu ke ruang musik hingga kau, dengan tidak sengaja, menendang kaleng di depanmu. Lalu Rei menarik tanganmu dan berbicara denganmu. Kau terlihat gugup, bicaramu terbata-bata. Kenapa? Kenapa kau menyukainya, manis? Dia itu brengsek. Dan besok malam kau akan jadi tamu istimewanya. Hatiku perih saat kau bilang bahwa kau akan datang.
***
Sms darimu kubaca. Aku tidak membalas. Aku tidak mungkin pergi ke sana dan melihatmu bermesraan dengan lelaki itu. Tapi, apa aku akan diam di sini, sedangkan kau di sana bersama orang seperti dia. Aku menghela napas lalu memejamkan mata.
Malam ini pasti menyenangkan. Aku harus memakai gaun tecantik, mungkin yang hitam. Apa yang akan Rei lakukan malam ini? Menyanyikan lagu untukku atau mungkin mengungkapkan perasaannya. Tapi, apa dia suka padaku? Tapi kalau tidak, kenapa ia mengundangku sebagai tamu istimewa? Entahlah, lihat saja nanti apa yang terjadi. Tapi, kenapa Dewa tidak membalas sms-ku.
Kulirik jam dinding hitam itu. Sekarang jam 10 malam. Sudah 3 jam pesta itu berjalan. Apa saja yang Ayu lakukan dengan Rei. Perasaanku tidak nyaman. Aku memakai kemeja dan mengambil kunci mobil. Akhirnya aku akan datang ke pesta itu. Aku khawatir dengan gadis manis itu.
”Kau cantik sekali malam ini.”
”Thanks.”
”Ayo, sepertinya di sini terlalu penuh. Kita di luar saja.”
Kau mengajakku ke balkon. Di sini sepi, tapi pemandangan kota bisa menghidupkan suasana menjadi romantis. Tapi aku agak khawatir karena jalanmu sempoyongan. Mulutmu juga bau alkohol. “Kamu mabuk ya?”
Kau tidak menjawab, bahkan kini kau mendorongku ke dinding dan memaksaku minum dari botol yang kau bawa. Aku tidak tahu apa itu, tapi rasanya sangat tidak enak. Kepalaku mulai pusing. Aku mendorongmu. Kau terdiam dan aku berusaha pergi dari sini. Tapi, kau menarikku dan mendorongku lagi ke dinding. Kini kau memaksaku berciuman. Aku ketakutan, benar-benar ketakutan.
”BAJINGAN!!!”
BUUUK
”Dewa?” aku terkejut ketika tiba-tiba kau datang dan langsung memukuli Rei. Kepalaku masih sakit, aku bersandar di dinding. Kau memukulnya bertubi-tubi. Aku tidak pernah melihatmu semarah itu. Biasanya kau bersikap sangat dingin dan tidak peduli. Tapi, kali ini aku melihat kau yang lain. Kau yang ganas, garang, dan liar. Kau memukulinya seperti orang kesetanan. Aku melihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. ”Sudah, Dew!!!” tapi kau tak bergeming bahkan kau sama sekali tidak mengurangi tempo pukulanmu. Kini lelaki brengsek itu sudah tak berdaya. Kau berbalik, meraih tanganku dan menarikku pergi dari tempat terkutuk ini. Aku takut padamu, tapi genggamanmu yang kuat membuatku merasa aman. Aku sadar, ini perasaan yang lain.
Aku tidak akan pernah membiarkan seorang pun menyakitimu. Melihat lelaki itu mendorongmu ke dinding dan memaksamu berciuman membuat kepalaku ngilu. Entahlah, hatiku geram. Ini berbeda. Aku bergegas menghampiri lelaki brengsek itu dan memukulnya. Aku tidak peduli berapa banyak orang yang melihat atau bahkan jika ada polisi pun aku tetap akan menghabisi orang ini sampai mampus. Tapi teriakanmu membuatku sadar bahwa aku sudah melewati batas. Aku terdiam. Si Brengsek itu sudah berlumuran darah. Aku berbalik dan menarikmu keluar dari sini.
Malam ini aku benar-benar kacau. Demi apa aku sampai bisa dibutakan rayuan gombalnya. Kepalaku terasa berat dan rasanya aku ingin muntah. Minuman itu membuatku sempoyongan begini. Aku menangis, meratapi apa yang terjadi malam ini. Membayangkan hal seperti ini saja belum pernah. Aku merasa bodoh.
Hatiku berkecamuk. Masih menggenggam tanganmu dengan erat, aku menghentikan langkah. Aku menatapmu, gadis manis yang kini menangis ketakutan. Aku merasa iba. Aku merasa bersalah padamu.
”Seharusnya kau tidak menurutinya.”
Aku terdiam. Kugigit bibir bawahku menahan perihnya hati ini.
”Seharusnya kau tidak mau!”
”Apa kau lihat aku mau berciuman dengan lelaki itu?!”
”Kau bisa berteriak!!”
Aku merasa jatuh. Jatuh karena aku lemah. Jatuh karena disalahkan seperti ini. Air mataku semakin deras mengalir.
Bodohnya aku. Seharusnya aku tidak membentaknya. Dia sedang kacau, aku pun jadi kacau. Ku usap air matanya. Kutatap lekat matanya, ”Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membentakmu. Aku hanya tidak ingin kau disakiti.”
Dia memelukku. Pelukan yang hangat untuk malam yang buruk seperti ini. Kini aku tahu, dia hanya ingin menenangkanku, mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja bersamanya. Aku tenang, dan semuanya menjadi gelap.
”Aku mencintaimu,” kalimat itu kini dapat aku ucapkan, meski aku tahu mungkin ini bukan saat yang tepat. Tapi saat kulihat wajahmu, matamu tertutup. Kau pingsan. Entah kau dengar atau tidak ucapanku tadi, tapi mungkin sebaiknya kau tidak mendengarnya. Aku mengangkat tubuhmu dan membawamu masuk ke mobil. Mungkin sebaiknya malam ini kau tidur di rumahku.
”Lho, Mas, itu temannya kok pingsan gitu?”
”Kelelahan, Bi. Besok siapkan sarapan untuk kami ya, Bi.”
”Oalah, iya, iya, Den. O ya, tadi nyonya bilang malam ini mau nyusul tuan ke Bogor.”
“Ya.”
Aku tidurkan kau di kasurku. Aku cari selimut yang tebal agar kau tidak kedinginan. Aku duduk di lantai dan mengamati wajahmu. Manis, dalam keadaan tertidurpun kau tetap terlihat manis.
Kubuka mataku yang terasa amat berat. Kepalaku pening. Menyadari bahwa aku terbangun tidak di kamarku, pikiranku berkecamuk. Lalu kulihat kau duduk tertidur di lantai. Pakaianmu masih yang kemarin. Sepertinya kau rela tidur di sana untuk menjagaku di sini. Kau baik.
***
Malam ini kau mengajakku pergi, entah kemana. Aku mau karena aku memang sedang bosan. Style-mu seperti Jonghyun, bedanya kau (selalu) sedikit berantakan. Kau mempersilakanku masuk ke mobilmu, lalu kita melaju. Tanpa pertanyaan, tanpa jawaban. Tapi, keadaan ini tetap asik. Kamu itu, es.
Errgh, ya. Sepertinya kini tikus sedang bermutasi menjadi harimau. Malam ini kau terlihat lebih manis. Aku tidak berbicara apapun selama di jalan karena aku sibuk menata hati. Terkadang aku merasa bodoh karena bisa kacau hanya karena berada di dekatmu.
”Ke pantai? Kau mengajakku ke pantai malam-malam begini? Dingin dong, Dew. Lagian kemarin aku juga habis kena flu, ntar kena lagi dong,” kutanya seperti itu, mimik wajahmu tidak berubah. Terkadang aku berpikir, apa kau ini memang orang yang beku atau tidak punya ekspresi atau hanya sedang badmood. Kau keluar dari mobil dan menarikku mendekati air laut.
Aku tidak akan berkata apapun hingga kau menyentuh air laut itu sendiri. Lalu kau akan melihat sesuatu di langit. Dan aku yakin kau akan senang.
Aku takut dingin. Aku bisa batuk-batuk kalau kedinginan dan sekarang kau menarikku ke air. Tapi, aku terkejut saat air laut ini terasa hangat di kakiku. Ya, aku baru ingat kalau air laut menghangat di awal petang. Aku melihatmu. Kau tersenyum padaku. Kau, tampan.
Lalu tiba-tiba ada ledakan di langit disusul hamburan cahaya berwarna-warni. Kembang api, itu kembang api, ”Wow!”
”Bagus kan? Kembang api selalu bisa membuatku senang.”
”Ha?! Hahahaha, jadi, kamu suka kembang api?”
”Kenapa?”
”Aku kira kau seperti es batu, dingiiiiiiin. Hahahaha.”
Kau manis sekali. Aku tersenyum kau berkata seperti itu.
„Kenapa?“
„Manis.“
„Apanya?“
Tiba-tiba kau menarik kepalaku dan menciumku. Entahlah, aku tidak menolaknya. Ciumanmu lembut dan hangat. Mataku terpejam dan hatiku bergejolak. Ini ciuman pertamaku.
Aku menciummu, ya, aku melakukannya. Entah setelah ini kau benci atau tidak padaku. Aku hanya merasa harus mengungkapkan apa yang sudah aku pendam selama ini. Lalu ledakan kembang api menyadarkanku. Aku melepas bibirmu. Kau terlihat gugup dan wajahmu memerah. Aku menatapmu, ”Aku mencintaimu.”
Oh, Dewa, demi apa kau mengatakannya secepat ini. Tapi, aku merasa lega karena aku juga mencintaimu. ”Kau tahu? Kau bisa membuatku mati membeku di sini.”
Jawabanmu membuatku sadar kalau kita masih berada di air sejak tadi. Aku tersenyum dan kau membalasnya, manis sekali. Kutarik tanganmu dan kau memelukku. Malam ini lebih indah dari biasanya.
”Hey, kau tidak butuh jawabanku?”
”Nggak.”
Apa? Apa maksudnya? Aku berhenti di depannya memasang muka manyun. Kau kembali tersenyum padaku.
”Aku sudah tau, manis.”
”Apa?”
”Kau juga cinta aku.”
”Ha?”
”Hahahaha”
Lalu kau meninggalkanku. Bagaimana kau tahu? Aku melihat punggungmu menjauh. Aku jadi ingat dengan lelaki yang menolongku dari pencopet dan lelaki berantakan yang berjalan di taman dahulu. Ternyata, itu kamu. Kau berbalik dan menungguku bergerak. Aku berlari ke arahmu.
>> tamat :)
