Besok pagi kita berpuasa, bagaimana perasaanmu?
Malam ini adalah tarawih perdanaku, juga kalian tentunya. Dengan berjalan pendek menuju masjid di depan rumah yang notabene jaraknya tidak terlalu jauh membuat semangatku menebal berlapis-lapis, bukan tango lho!
Setelah menggelar sajadah dan melakukan sholat 2 rakaat, aku memandangi bangunan masjid Al-Huda yang sudah banyak berubah. Yang dulunya cuma ada 3 pintu kayu, kini telah berdiri 5 pintu dengan lapisan kaca yang besar-besar. Yang dulunya hanya ada 1 tempat wudhu tanpa kamar mandi, kini ada 2 tempat wudhu yang luas, dengan kamar mandi yang bersih. Bangunan dalamnya pun bertambah luas dan bergantung beberapa kipas angin. Al Qurannya tersusun rapi di lemari kaca.
Namun, ada satu yang tidak berubah. Pembatas shaf laki-laki dan perempuan tetap nampak sama. Bentuknya tetap seperti itu. terbuat dari kayu, berwarna hijau, dan beratnya minta ampun. Ini nih, yang mengingatkanku dengan memori Ramadhan saat aku masih SD.
Mengingatkanku tentang sholat Jumat, yang untuk pertama kalinya aku melihat tangannya menyentuh sajadahku. Tangan yang lebih besar dari tanganku. Tangan yang tanpa sengaja menyentuk tanganku. Dan kami tetap melaksanakn sholat Jumat meski kami tahu wudhu kami telah sia-sia. Kami kan masih kecil.
Mengingatkanku tentang sholat Tarawih yang tidak pernah kusyuk hanya untuk melihatnya datang. Salam di tahiyat akhir yang dilambat-lambatkan hanya untuk memastikan bahwa dia melihatku.
Mengingatkanku tentang aku yang berposisi di barisan depan agar bisa membuat ia mudah melihatku. Juga agar aku bisa melihatnya datang terlambat dengan memakai kaos hitamnya.
Mengingatkanku tentang mempercepat langkahku melalui pintu yang jauh agar kami bisa berpapasan.
Mengingatkanku tentang sholat Subuh yang dengan terkantuk-kantuk aku datang hanya untuk membuatnya berpikir bahwa aku anak yang rajin.
Mengingatkanku tentang doa kecil yang kuucapkan kepada Tuhan. Doa untuk kepastian bahwa jika dia melihatku maka dia suka aku. Dasar anak kecil!
Tapi, hari ini aku adalah seorang gadis dewasa. Aku bukan anak kecil itu. Jadi, aku bulatkan niatku untuk menghadap Tuhanku. Ya, suasana masjid yang baru, yang tentunya lebih nyaman membuatku betah di sini. Hingga tiba-tiba aku melihat seorang yang ternyata ia lebih tua setahun dariku.
Semoga aku tidak goyah. Hahahaha

0 prakata:
Posting Komentar
monggo komen :)