salam bahagia!
mari berbagi percikan api kehidupan,
bersama menyusun mozaik2 alam pasti menyenangkan.
selamat berbagi, kawan!
:)

SMP Tercinta




Selamat siang, kawan kawan!
Bagaimana kabarmu? Baik kan? Semoga baik.
Hari ini hari jumat tanggal 15 april 2011. Tau nggak? Besok senen aku akan berjuang menghadapi ujian nasional. Ini titik balik untuk masa depanku.
Agenda hari ini adalah doa bersama si sma tercinta dan doa bersama di smp tercinta. Rencanannya kumpul di smp jam 9.15 >> nanggung banget ya? Emang. Tapi nggak apalah, bukannya doa bersama di sma itu nggak sampai 5 jam?
Tapi kenyataan berbeda, di sma doa bersama mulai pukul 10.00, sama aja boong! Nggak bisa tepat waktu ke smp. Tapi (sekali lagi) nggak apalah.

Sesampainya di smp, pukul 11.00, aku tengok kanan, tengok kiri, tengok belakang, nggak ada temen-temen. Ternyata mereka sudah ngumpul duluan di dalam halaman. Ada indra, putra, patri, taka, gunu, agus, andi, dll (lupa deh namanya!). Lalu shinta muncul. Kami ngobrol (>> baca mengkritik) tentang penampilan teman-teman sekarang dibandingkan dulu. Tentu saja berbeda, teman.
Lalu kami masuk ke dalam sekolah, bapak-bapak guru sudah pulang duluan, jadi yang ada cuma ibu-ibu guru, itu pun mereka lagi ada rapat (atau arisan mungkin). Kami menunggu, 5 menit, 15 menit, setengah jam, satu jam. Lamaaaaaaaaa nggak selesai-selesai. Yaudah kami pulang.
Hahahahahaha, nggak ada yang spesial kan?
Tentu ada!

Di sana putra bercerita tentang pacarnya asta yang seperti pakde-pakde. Sambil ngangkat-ngangkat rok, dengan bahasa yang ceplas-ceplos, dia bercerita kalau bahkan bapaknya lebih ganteng dari pacarnya asta. Lalu berlanjut ke endang yang udah punya suami. Katanya suaminya endang ganteng pol. Hahahaha
Lalu indra yang bercerita tentang salah satu teman seangkatan kami yang pernah dilihatnya sedang menyusui anak kecil di jalan selamet. Suaminya ganteng, katanya. Lalu juga cerita tentang sugeng yang tidak melanjutkan sekolah, tapi bekerja menjaga warnet. Dan lain lainnya.
Di sana kami juga minta doa restu pada bu pinuk, bu eli, dan beberapa ibu yang lain. Sayangnya mantan wali kelasku tidak keluar. Keburu kami pulang, belum minta doa restu pada beliau. Sedikit kecewa sih, karena tidak bisa bertemu dengan bu rahma, pak sih, dan bu ade. Padahal itu kan guru favoritku.

Yang aku ingat sampai saat ini adalah, teman-teman lamaku yang tidak berubah sama sekali. Mereka tetep mereka, yang ceplas ceplos, rame, cerewet. Juga kata-kata buruk yang dulu hampir setiap hari aku dengar, kini kembali terasa asing.
Juga wajah bu rahma dan bu ade yang sempat sekilas terlihat, ibu-ibu ini tambah cantik saja.


0 prakata:

Posting Komentar

monggo komen :)