salam bahagia!
mari berbagi percikan api kehidupan,
bersama menyusun mozaik2 alam pasti menyenangkan.
selamat berbagi, kawan!
:)
0 prakata

Balada Cinta Egois


Jadi bagaimana dengan cinta?
Katanya cinta itu indah, katanya cinta itu pahit.
Bukankah cinta itu egois?
Ia membuat kita senang, senang sekali, sampai sampai kita melupakan bagaimana cara melihat dunia dengan benar. Seakan akan semuanya menjadi seperti surga.
Ia membuat kita tersiksa, tersiksa sekali, sampai sampai kita hanya ingat bagaimana cara untuk mengakhiri semua ini.

Afterdark
Baru sadar aku, cinta itu memang egois. Ia membuat sakit yang tak terperi. Bukan karena pengacau hati. Bukan karena kekecewaan. Hanya karena rindu.
Cinta membuat adonan rindu dari sesendok rasa suka, segelas sayang, dan sebungkus harapan. Lalu mengaduknya sampai rata. Kemudian dipanggang dalam hati.
Dan bodohnya, terkadang kita lupa berapa derajad suhu yang dianjurkan untuk adonan rindu ini.
Mungkin kita menyetel dengan suhu rendah, sampai sampai adonan ini membatu bersama hatinya.
Mungkin kita menyetel dengan suhu yang terlalu tinggi, hingga adonan ini tak kuasa menahan tekanan tekanan yang tak diharapkan, sampai ia meledak bersama dengan hatinya.

Ya, cinta itu memang egois.
Bagaimana ia memikirkan sakitnya rindu yang ia tanamkan, sedangkan kita hanya bisa menyiraminya dengan air mata.
Rindu akan seorang bidadara dengan tanda di pelipisnya. Satu sayapnya telah hilang tersesat di tempat teraman. Ia tak akan pernah bisa terbang dengan satu sayap. Tapi bukankah ia bisa mencari sayap yang lain? Lalu ia bisa kembali terbang lagi.
Akankah cinta memikirkan itu?

Heartblock
Bagaimana pun caranya, cinta itu tetap egois. Ia akan menempuh berbagai cara untuk membuat benteng pertahanan, untuk membela diri. Ia salah, tapi ia membenarkannya. Ia menghasut kita seperti menuju surga.
Ingat bagaimana kita berpikiran positif saat cinta itu kejam? Kita bilang inilah cinta padahal dusta. Kita bilang inilah rindu padahal nafsu. Kita bilang memesona padahal zina. Bohong, inilah bualan cinta.

Bahkan aku hanya bisa menggambar cinta saja, padahal aku tau ini ego. Hanya sayap, lelaki, dan tanda lahir itu. Cinta menyiksaku, dan aku menikmatinya. 

0 prakata

forgive



Jadi hari ini tadi selesai ujian kami masuk ke kelas masing masing. Tunggu tunggu, aku sih masuknya agak telatan. Soalnya nemenin si Bee pake hotspot. Si Baa udah ke kelas duluan sama temen2 yang lain.
Nggak lama kemudian ada si Kinclongnya Bee di bawah (kita di lantai atas), langsung deh si Bee pamer. Ditambah lagi sama yang si Itu trus si AuW. Biar deh biar puas liatnya, hohoho.
Lalu kami berjalan menuju kelas tercinta.
Setengah jalan aku dan Bee liat ada Kodoknya Baa. Yakin deh, ini pasti si Baa liat tu Kodok nggak pake kedip. Hahahahaha.
Dan ternyata BENAR!!!
Tapi kayake lagi badmood deh, iya nggak Baa??
Everything will be OK kok Baa

Lalu?
Lalu ternyata kami diminta sama Bu Guru untuk saling maaf memaafkan --- sebenarnya nggak itu aja, cuma aku lupa tadi Ibuknya ngomong apa.
Lalu kami salim saliman, minta maaf pada temen2, sama Bu Guru juga lho! Terakhir salim sama si Bee, niatnya mau salim ama Baa, tapi dianya udah lenyap (-,-) >> nandi kowe mau???!!!
Trus pulang deh!

Tapi yang aku ingat pesan Bu Guru, 
“Usahakan di saat saat terakhir ini kita buat suasana yang menyenangkan untuk diingat.” 
Kurang lebih begitu.
Huhuhuhuhuhu, jadi sedih deh.

In memoriam:

Mengingat masa lalu, waktu masih kelas dua, aku itu cuma kenal ama Bee. Siapa itu Baa? Sapi? Pahlawan? Om Ndaru? Nggak kenal tuh.
Sampai Tante Wewah menyatukan kami lewat film Arti Sahabat, itu nggak gampang lho! Yang mbuat alur harus kesana sini. Bikin nangis mata aja susah minta ampun, sampai harus dibacain puisi tentang ayah yang notabene Mama & Sapi aja bisa nangis, tapi tidak bagi Boo, hohohohohohohoho.

Mengingat waktu membuat film di city walk, loncat loncat untuk narsis, makan mie ayam di bawah guyuran hujan, sambil berdendang Hujan jangan marah..’ ingat ga Bee?

Mengingat waktu kelas serasa seperti golongan golongan yang saling berperang dingin, lirik sana lirik sini, sirik sana sirik sini --- nggak gitu amat sih!

Mengingat sulitnya mbuat desain jaket, sulitnya menciptakan sebuah simbol keberadaan Kaum Spesial.

Mengingat waktu di warung KanJen si Baa beli teh terus curcol masalahnya ama ***-***** gara2 study tour, ingat ga Baa?

Mengingat waktu kami dicerai cerai saat study tour, tapi tetep bisa kumpul2 lagi. Ingat nggak waktu kita lari2 mengejar senja di Kuta? Kau (Bee) pegang erat tanganku, aku pegang erat bajumu (Baa) --- tak tarik maksude.
Ingat nggak waktu di dreamland, menantinanti ombak datang. Waktu itu kita bener bener tersenyum, kawan!

Mengingat waktu kucing kucing berkeliaran di Mall, makan pizza dan menjalankan truth game. Aku ngaku aku suka dia. Kamu ngaku kamu suka dia. Dan kamu ngaku kamu sangat suka dia. Bingung? Hehe

Mengingat bagaimana kelas begitu ramai saat ada maupun tiada guru disana. Maafkan kami Pak Bu Guru. Mengingat bagaimana kita saling olok mengolok sesama, rasan merasani orang lain. Kita tau itu dosa, tapi mau apa kepuasan tersendiri untuk saling terbuka, benar kan?

Mengingat kita mempunyai Boneng dengan kekonyolannya saat memfoto wajahnya sendiri. Sapi yang diperkosa sesama jenisnya. Si Kentang yang ayah ibunya selalu mengajar di kelas. Rinda yang alim kini mulai nakal, hohoho harus seneng apa sedih nih?

Mengingat perjodohan paksa yang melanda tiap insan. Kelas kita ini biro jodoh. Bundo dengan Camat. Baa dengan Tanjel. Boo dengan Syah. Widodo dengan Mandut. Kentang dengan Ika. Mbah Krempa dengan Dian. Bee dengan piiiiiiiip (’3’)

Mengingat tadi kalian mencuri kursi taman ke kelas.
Mengingat video yang kita buat.
Mengingat kita pergi ke pasar malem dan membeli 4 buah mainan @1000.
Mengingat kita menangis karena dilema.
Mengingat kita nyari kostum untuk buken.
Mengingat guru-guru yang membenci kelas karena keramaian kita.
Mengingat nilai nilai yang sering muncul saat ulangan, 5, 6, 7.
Mengingat kita tertawa karena tidak ada yang minum CEREBROVIT --- ini sindiran lho! Hehehe

Mengingat kita sekarang sudah kelas 12 SMA --- Sekolah Menengah Atas.
Mengingat kita sekarang sudah mau kuliah.
Mengingat kita sekarang sudah sibuk mengurusi masa depan masing-masing.
Mengingar kita sekarang sudah dewasa, bukan anak-anak lagi.
Mengingat kita akan berpisah.

Untuk kesekian kalinya, teman temanku yang telah menorehkan percikan percikan api kehidupan di kisahku. Kesedihan, kesenangan, kekonyolan, kemarahan, kekecewaan, semangat, solidaritas, itu adalah hal indah dari masing-masing kalian. Terima kasih untuk segalanya. Aku mengaku bahwa aku bukanlah termasuk golongan tua, huft! Ya ya ya, jadi kalau seandainya ada salah salah gitu, ane minta maaf ya.

Untuk para heroes tanpa tanda jasa, bu guru pak guru, kakak guru, paman paman cleaning servise, ibu UKS dan si pur tentunya, anda anda inilah yang membuat hidup saya menegang tiada tara. Membuat saya menipis dan terpontang panting tertiup angin. Pun menari nari karena semangat dan kejutan unik. Kepada bu Uut maaf kalau nilai kimia saya nggak bagus2 dan selalu me-ngrasani anda, hehe. Kepada bu Marfuah, maaf juga kalau kimia saya sukanya remidi aja. Kepada ibu Koperasi maaf suka ngomong yang nggak2. Juga pada ibu Uks, salam buat anaknya yang ganteng yaaa, hohohohoho. Special buat ibu2 BP3, pak Gimin dan pak Hars, okelah saya kecil 
(=,=”)

Intinya
THANKS for ALL PEOPLE in my beloved SMANSA

0 prakata

Perfect ?

sedikit kecewa sih, kalau dapet kabar yang mengecawakan, ya iyalah!
lol
saya buka webnya, dan saya tertolak, huhuhuhuhuhu
padalah ngarep banget ana ke situnya, tapi tak apalah mungkin bukan jodohku.
mudah mudahan aja besok bisa dapat yang lebih baik. amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin
(ini dipanjangin biar kabul, hoho)


kangen juga nggambar kayak gini
melantur kesana kmari
melamun sambil minum secangkir teh dengan komposisi yang tepat
dua sendok makan gula dan setengah gelas teh kental
lalu dituang air panas setengah gelas
kenikmatan tersendiri untuk minum teh di senja hari di kebun belakang rumah